Wong Jawa ilang Jawane

“Wong jawa ilang jawane” (orang jawa yang hilang akan sifat jawanya) mungkin itu yang ada dalam pikiran Saya setelah membaca salah satu postingan yang ditandai ke Saya oleh salah satu teman.

Tulisan yang diunggah oleh sebuah fanspage yang bernama Nggugah Roso ini menyentuh hati dan membuka pikiran Saya setelah membacanya.Tulisanya tidak panjang, mungkin kurang dari 100 kata namun mampu menyentuh hati setiap orang yang membacanya.Bahkan sampai menembus 5000 lebih share di facebook. Berikut ini adalah tulisan yang Saya maksud :

tulisan nggugah roso image
Tulisan Nggugah Roso FP , Sumber : facebook.com

ORANG JAWA
RIWAYATMu…….KINIIIIIIII……
Orang Jawa tinggal separuh….tinggal orangnya aja Jawa, masih bahasa Jawa,masih suka rawon,pecel dan sambel terasi…Suluk Kulo nuwun sudah hilang..Pakaian Jarik kebaya yang pakai malah Orang Bali…Otak dan Hatinya sudah bukan Jawa apa lagi Budayanya…Jawa artinya Tidak Punya Musuh kenyataanya rukun sama Saudara sendiri aja Nggak Saling Curiga Iya…terus Kebanggaan apa yang bisa kita promosikan dari Jawa saat ini…yang diributkan kalau nggak Uang ya agama..padahal agama itu sekedar Peta dan Aturan Lalu-Lintas menuju Tuhan mau Liwat manapun silahkan Mau pakai Nama Tuhan yang Manapun silahkan..Bung Karno pernah berpidato…Kalau jadi Hindu jangan jadi Orang India, Kalau jadi Islam jangan jadi Orang arab, Kalau jadi Kristen jangan jadi Orang Yahudi…Tetaplah Jadi Orang Nusantara Dengan Adat-Budaya Nusantara Yang Kaya Raya ini……
‪#‎Mari‬ kembali Kejati diri Bangsa Nusantara yg Sejati …..

By : Arya Dipadilaga Nusantara.

Serasa tertampar Saya membaca tulisan diatas, teringat ketika Saya masih kecil dulu Saya disuruh untuk berbahasa krama halus kepada orang yang lebih tua.Mungkin sekarang sudah mulai luntur budaya seperti itu, sekarang ini banyak anak muda lebih suka berbahas Indonesia kepada orang tua atau yang dituakan dibanding mengguakan bahasa krama inggil. Bukan melarang menggunakan bahasa Indonesia, namun akan lebih elok ketika kita berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa krama inggil atau krama halus. Contohnya jawaban “iya, pak” dengan “Nggih, pak ”  akan terasa lebih elok “Nggih, pak” pada percakapan antara guru dan murid. Guru akan merasa lebih dihormati, sedangkan murid tidak merasa direndahkan. Justru si murid akan terlihat lebih terhormat diantara murid-murid lainya (ini menurut Saya).

Saya ini orang jawa, dan sekarang tinggal di luar pulau Jawa. Memang benar orang jawa itu tidak punya musuh, karena orang jawa itu mau menerima perbedaan dan rukun terhadap masyarakat.Oleh karena itu, orang jawa banyak yang sukses dan menetap di luar pulau sebagai perantauan termasuk Saya saat ini.Namun berbeda dengan pulau jawa rumah Saya sendiri, antar sesama masyarakat saja masih masih suka bertengkar. Jangankan masalah uang atau masalah agama, masalah sepak bola saja sudah mengakibatkan korban jiwa. Saya tidak akan jauh-jauh, di daerah Saya saja Malang, masih dalam 1 provinsi  bahkan jarak antar kota tidak terlampau jauh hanya gara-gara bola bisa menjadi anarkis  dan mengakibatkan korban jiwa.

bentrok arema sindonews
sumber : sindonews.com

Belum lagi masalah agama, beda aliran sedikit ribut.. itu terkadang yang mebuat Saya sedih. Saya sendiri tinggal di daerah yang mayoritas agamanya adalah hindu. Yap, Saya tinggal di bali. Tinggal di bali, kita akan dibiasakan menerima apa itu perbedaan agama. Ini pertama kalinya dalam hidup Saya tinggal disuatu daerah dimana muslim menjadi agama yang minoritas. Namun itu bukan alasan bagi Saya untuk membenci umat beragama lain.Justru disini Saya diajarkan apa makna dari perbedaan yang sesungguhnya. Dimana kita saling menghormati antar sesama umat beragama.

Marilah kita kembali kepada orang jawa yang sejatinya orang jawa, orang jawa yang masih suka ewuh pakewuh, orang jawa yang rukun dan ramah.

Jangan sampai masalah yang kecil, akan mengacaukan kerukunan dan keutuhan Bangsa ini.

Karena kita harus selalu ingat :

Kalau jadi Hindu jangan jadi Orang India, Kalau jadi Islam jangan jadi Orang arab, Kalau jadi Kristen jangan jadi Orang Yahudi…Tetaplah Jadi Orang Nusantara Dengan Adat-Budaya Nusantara Yang Kaya Raya ini…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

36 + = 44